Jumat, 23 Maret 2012

Mengelola Potensi Tambang

. Jumat, 23 Maret 2012

Lari-Ngacir. Sepuluh perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan, tahun ini akan mulai melakukan eksploitasi. Mereka akan mengelola potensi tambang di Kabupaten Mamuju, seperti bijih besi, nikel, batu bara, mangan. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Mamuju Jalaluddin Duka mengatakan, dengan akan dikelolanya potensi tambang di Mamuju ini, daerah akan diuntungkan. Sebab, hasilnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan ekonomi daerah.

”Kami berharap dengan akan dikelolanya potensi tambang di Mamuju, akan menambah pendapatan daerah dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,”ujarnya. Menurut dia, sejak 2007 hingga saat ini,terdapat 73 perusahaan tambang yang telah mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP). Mereka menguasai blok tambang yang tersebar di 15 kecamatan di Mamuju. Selama ini, dari 73 perusahaan tambang, belum ada yang melakukan eksploitasi atau operasi produksi.

”Dengan tidak adanya kepastian dari perusahaan yang mengantongi IUP untuk melakukan operasi produksi tambang di Mamuju, daerah cukup dirugikan. Potensi tambangnya telantar dan tidak membawa dampak kemajuan perekonomian daerah,” katanya. Namun, pada tahun ini akan ada 10 perusahaan yang menyatakan diri akan melakukan operasi produksi.”Perusahaan tambang itu akan mengelola potensi tambang, seperti bijih besi, nikel, batu bara, mangan, logam,”papar dia tanpa menyebutkan 10 perusahaan tambang yang mengelola tambang di Mamuju itu.

Dia mengatakan, status kawasan hutan di Mamuju yang memiliki potensi tambang dan akan dikelola menjadi lahan tambang harus diubah terlebih dahulu menjadi areal penggunaan lain (APL) atas izin Pemerintah Pusat. ”Dari sekitar 8.014 kilometer persegi luas hutan di Kabupaten Mamuju, sekitar 70% merupakan kawasan hutan lindung dan hanya 10% yang dapat dikelola,”ujarnya. Dengan demikian,terdapat sekitar 60% kawasan hutan lindung yang dilarang dikelola untuk kegiatan apa pun.

Dia berharap Pemerintah Pusat memberikan izin perubahan kawasan hutan di Mamuju menjadi lahan tambang, dengan membantu dan mendukung rancangan tata ruang wilayah (RTRW) Sulbar yang saat ini sedang disusun. ”Sektor pertambangan akan dapat memacu peningkatan pendapatan dan perekonomian daerah ini,” tandasnya. Di sisi lain,potensi tambang zeolit di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) sekitar 70% bisa dikelola. Potensi tambang zeolit tersebut salah satunya terdapat di Kecamatan Messawa,Kabupaten Mamasa. Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sulbar Amri Eka Sakti mengatakan, kandungan tambang zeolit di Kabupaten Mamasa mencapai 17.057.600 ton.

Selain di Kabupaten Mamasa, tambang zeolit juga terdapat di Desa Seppong,Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, dengan potensi cadangan mencapai 26.400.000 ton. Sementara itu, untuk potensi kaolin terdapat di Kecamatan Wonomulyo,Kabupaten Polewali Mandar, sekitar 1.570.937 ton. Menurut dia, apabila kekayaan tambang yang dimiliki Sulbar itu dikelola maksimal, Sulbar akan meningkat secara ekonomi. Sebab, kekayaan tambang itu akan memacu pendapatan daerah. Dia berharap ada investor yang siap mengelola kekayaan alam sektor tambang di Sulbar itu agar dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.

0 komentar: